Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

Ada kisah nyata,  tentang bagaimana orang tua mendidik anaknya tanpa kekerasan dan bagaimana dampaknya terhadap anak itu sendiri. Kisah nyata yang inspiratif ini sudah cukup lama dipublikasikan. Namun kisah ini rasanya akan sangat relevan sampai saat ini bahkan sampai masa yang akan datang.

Kisah ini dialami Dr. Arun Gandhi, cucu kelima dari pemimpin spiritual dan politikus asal India, Mahatma Gandhi, yang memang dikenal dengan gerakan Ahimsa, yakni perjuangan tanpa kekerasan. Anak tertua dari Manilal Gandhi, anak kedua Mahatma Gandhi ini, menceritakan kisah tersebut di Universitas Puerto Rico pada 9 Juni 2005 lalu. Di Indonesia, kisah Arun Gandhi tersebut pernah dikutip dalam buku “Ayah Edy Punya Cerita” yang terbit pada 2013 lalu.

Kisahnya seperti ini… “Kala itu, usia saya kira-kira masih 16 tahun dan tinggal bersama kedua orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, Mahatma Gandhi. Kami tinggal di sebuah perkebunan tebu, kira-kira 18 mil jauhnya dari Kota Durban, Afrika Selatan. Rumah kami jauh di pelosok desa terpencil, sehingga hampir tidak memiliki tetangga. Oleh karena itu, saya dan kedua sudara perempuan saya senang sekali bila ada kesempatan untuk bisa pergi ke pusat kota, untuk sekedar mengunjungi rekan atau terkadang menonton film di bioskop. 

Pada suatu hari, ayah meminta saya menemani beliau ke kota untuk menghadiri suatu konferensi selama sehari penuh. Bukan main girangnya saya saat itu. Karena tahu kami hendak ke kota, Ibu menitipkan daftar panjang belanjaan yang dia butuhkan.

Disamping itu, Ayah juga memberikan beberapa tugas kepada saya, termasuk memperbaiki  mobil di bengekel.  Pagi itu, setelah kami tiba di tempat konferensi, ayah berkata: “Arun, jemput ayah di sini ya.. Nanti jam lima sore, dan kita akan pulang bersama”. ‘Baik ayah, saya akan berada di sini tepat jam lima sore.’ Jawab saya dengan penuh keyakinan. Setelah itu, saya segera meluncur untuk menyelesaikan tugas yang dititipkan Ayah dan Ibu kepada saya satu per satu. Sampai akhirnya hanya tinggal satu pekerjaan yang tersisa, yakni menunggu mobil selesai dari bengkel.

Sambil menunggu mobil diperbaiki, saya pikir tidak ada salahnya untuk mengisi waktu senggang dengan pergi ke bioskop untuk menonton sebuah film. Saking asyiknya menonton, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, sementara saya janji menjemput ayah pukul 17.00. Segera saja saya melompat dan buru-buru menuju bengkel untuk mengambil mobil, dan segera menjemput ayah yang sudah hampir satu jam menunggu. Saat saya tiba, jam sudah pukul 18.00 Dengan gelisah, Ayah bertanya kepada saya, ‘Arun, kenapa kamu terlambat menjemput ayah?.’

Saat itu saya merassa bersalah dan sangat malu untuk mengakui bahwa saya tadi keasyikan nonton film sehingga saya terpaksa berbohong dengan mengatakan, “Maaf ayah.. tadi.. mobilnya belum selesai diperbaiki sehingga Arun harus menunggu.’

Ternyata tanpa sepengetahuan saya, Ayah sudah terlebih dahulu menelpon bengkel mobil tersebut. Kemudian wajah ayah tertunduk sedih, sambil menatap saya, ayah berkata, ‘Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berkata jujur kepada ayah.

Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki, sambil merenungkan dimana letak kesalahannya.’ Lalu, dengan masih berpakaian lengkap, ayah mulai berjalan kaki menuju jalan pulang ke rumah. Padahal hari sudah mulai gelap dan jalanan semakin tidak rata. Saya tidak sampai hati meninggalkan ayah sendirian seperti itu. Namun, meskipun ayah telah ditawari naik mobil, beliau tetap berkeras untuk terus berjalan kaki.

Akhirnya saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, dan tak terasa, air mata saya menitik melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan. Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu, seumur hidup saya selalu berkata jujur kepada siapa pun. Sering kali saya mengenang kejadian itu dan merasa terkesan. Seandainya saja saat itu ayah menghukum saya sebagaimana orang tua pada umumnya menghukum anaknya yang bersalah, kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya.

Namun, dengan satu tidakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah, Walaupun tanda kekerasan justru telah memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri saya sepenuhnya. Saya selalu mengingat kejadian itu seolah-olah seperti baru terjadi kemarin.” “Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak.  Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.”

Sumber : Yanuar Jatnika-sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id