Kasih Sayang Dalam Menasihati Anak

Kasih sayang dalam menasehati anak sangat penting, tidak dengan kekerasan atau marah-marah. Menasehati dengan kasih sayang akan membuat anak merasa didengarkan dan disayangi oleh orang tuanya.

Anak-anak masih perlu belajar banyak hal. Selama belajar, anak-anak pasti akan melakukan banyak kesalahan. Pada saat anak kita berbuat kesalahan, sebagai orangtua dan seorang pendidik, kita tidak boleh diam saja. Kita harus bisa menjadi penasihat atau pemberi masukan yang kepada anak-anak. Namun terkadang entah karena intonasi suara yang kurang pas atau kata-kata yang salah, tidak jarang anak-anak tersakiti hatinya. Untuk mengatasi hal ini, kita perlu memperhatikan tips-tips berikut ini:

1. Menyadari bahwa anak-anak adalah pribadi yang lugu

Seekor anak kucing akan berusahan mengejar benda yang menarik bagi mereka. Ia bisa lupa kalau tidak diingatkan bahwa di sekitarnya ada bahaya yang mengancam. Itulah anak-anak. Anak yang normal akan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Karena itulah karunia yang Tuhan berikan, agar mereka memiliki semangat untuk belajar, meskipun dalam prosesnya mereka akan banyak melakukan kesalahan. Dan justru dari kesalahan-kesalahhan inilah mereka akan mampu belajar untuk menjadi lebih baik. Jadi bila emosi sudah memuncak, sadarilah akan hal ini, maka rasa sabar itu akan datang dengan sendirinya. Semoga!

2. Melihat wajah sendiri di depan cermin dengan berbagai ekspresi

Tunjukkan wajah anda saat tersenyum. Sudahkah terpancar ketulusan? Kira-kira, Sudahkah senyuman kita mampu meluluhkan hati anak-anak? Bila belum, teruslah belajar agar bisa tersenyum lebar dengan ekspresi wajah yang ceria. Lalu cobalah berkaca dengan ekspresi wajah cemberut atau pada saat marah. Itulah wajah yang akan dilihat anak-anak yang masih memiliki kepekaan hati yang tinggi. Wajah yang seram akan terus terngiang di dalam pikiran anak-anak bila kita sering menunjukkan wajah cemberut apalagi marah. Jadi jangan salahkan anak-anak bila mereka menjadi kurang mau dekat dengan anda atau takut menatap mata anda saat anda menasihatinya.

3. Menjadi pendengar yang baik, seperti sahabat

Saat terjadi perceksokan yang antar anak-anak dan membuat salah satu anak lainnya menangis, kita tidak boleh serta merta menyalahkan anak yang membuat temannya menangis. Apalagi dengan nada tinggi. Anak menangis bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena si anak memang cengeng. Sebagai pendidik yang baik, kita perlu menjadi sahabat plus detektif yang baik. Kita perlu tahu dan menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya, sebelum memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah dengan mengajak berdiskusi. Yang terpenting di sini, kita tidak boleh melakukan ancaman atau bertanya dengan nada tinggi, karena terkadang sikap seperti ini bisa membuat anak menjadi kurang terbuka dan bahkan bisa mengatakan hal yang tidak sebenarnya karena rasa takut yang berlebihan.


4. Bijak dalam memilih saat yang tepat

Ada kalanya kita melihat seorang anak jahil kepada temannya. Entah karena memang bertujuan mencari perhatian, atau karena memang sifatnya yang usil. Bila hanya sekali atau dua kali, dan tidak mengganggu suasana sekitarnya mungkin masih bisa ditoleransi. Karena terkadang orangtua sebagai seorang pendidik pun harus membuat candaan sesekali, agar anak tidak merasa bosan. Jadi jangan rebut hak anak untuk bercanda juga bila hal ini tidak terlalu mengganggu sekitarnya. Bila memang apa yang dilakukan anak sudah keterlaluan, kita bisa mencari saat yang tepat dalam menasihatinya. Kita bisa mendekatinya, dan menasihatinya dengan suara pelan. Yang terpenting di sini, kita perlu berusaha agar anak tidak merasa “dipermalukan di depan teman-temannya” saat kita menasihatinya.

5. Jujur dan terbuka dalam mengungkapkan perasaan

Seorang pendidik yang baik tidak akan pernah marah kepada anak-anak didiknya. Pendidik yang baik akan mampu mengelola rasa marah menjadi rasa prihatin atau sedih. Prihatin dengan kelakuan anak yang kurang sopan, sedih karena tidak didengarkan saat mengajar, atau prihatin karena sebab yang lain. Bila itu yang kita rasakan, kita perlu mengungkapkan kepada anak-anak didik kita dengan mengatakan, “Bapak sedih melihat perilaku teman-teman yang kurang sopan… “. Anak-anak biasanya akan lebih mau memperhatikan bila kita mengungkapkannya dengan cara seperti itu daripada mengungkapkannya dengan marah-marah, apalagi ngomel-ngomel.

6. Marah, namun tidak dendam dan berdamailah

Bila kesabaran sudah habis, kadang rasa marah pun timbul. Namun sebagai seorang pendidik yang baik, kita tidak boleh menyimpan rasa dendam pada anak-anak. Langkah terbaik yang harus kita lakukan saat rasa marah itu harus terungkap di hadapan anak-anak adalah dengan melakukan rekonsiliasi. Rekonsiliasi ini bisa dilakukan dengan meminta maaf atau memberi penjelasan dengan suara lembut kepada anak yang kita marahi, menjelaskan alasannya, dan mengadakan persetujuan bersama agar hal itu tidak terjadi lagi. Rekonsiliasi selanjunya bisa dilakukan dengan ikut bermain bersama anak-anak didik dan kembali tersenyum di hadapan anak-anak didik yang lain.

Kesabaran bisa membuat masalah yang terlihat besar menjadi terlihat lebih sederhana dan bisa mencegah terjadinya masalah besar. Karena masalah besar pun kadang hanya disebabkan oleh suatu persoalan sepele. Semoga dengan belajar dari kiat-kiat di atas, kita akan selalu terlihat sebagai sosok yang sabar dan menjadi teladan kesabaran di mata anak-anak didik kita.Bagimana pun teladan hidup kita sehari-harilah yang nantinya akan lebih menentukan pembentukan karakter anak-anak didik kita, daripada ajaran dan nasihat kita.

Sumber : kakzepe.com