Dilarangan Potong Kuku & Rambut Hingga Idul Adha?

Pernah denger tentang larangan memotong kuku dan rambut hingga idul adha?

Larangan ini hanya berlaku untuk shohibul qurban (orang yang berniat untuk melaksanakan ibadah qurban) sahaja.


Sebagaimana shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh al Jama’ah kecuali Al Bukhari yaitu dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,


إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzul Hijah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”

Dalam lafazh lainnya,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.”

Kedua hadits ini menunjukkan larangan untuk memotong rambut dan kuku bagi mereka yang ingin berkurban setelah memasuki 10 hari awal di bulan Dzulhijjah.

Shohibul qurban sendiri merupakan orang yang memiliki niatan untuk melaksanakan qurban ya.

Jadi jika misalnya seorang ayah hendak berqurban atas namanya dengan seekor kambing maka yang menjadi Shohibul Qurban hanyalah sang ayah. Sedangkan jika seorang kepala keluarga hendak berqurban atas namanya dan keluarganya dengan seekor sapi maka yang menjadi Shohibul Qurban adalah 7 orang dalam keluarganya yang di niatkan untuk melaksanakan ibadah qurban.

Larangan di sini termasuk mencukur habis, memendekkan, mencabut, membakar, atau memotongnya menggunakan bara api.

Rambut yang tidak diboleh untuk dipotong maupun dikurangi termasuk di antaranya rambut kepala, rambut yang ada di badan, termasuk bulu ketiak, kumis, hingga bulu kemaluan.

Tapi, bagaimana jika melanggarnya?

Bila shohibul kurban melanggar larangan tersebut, maka kurbannya akan tetap sah. Akan tetapi, ia berdosa sehingga wajib bertobat dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya. Namun, jika shohibul kurban melanggar larangan tersebut karena lupa atau tidak tahu, maka ia tidak berdosa.

Ada hikmah di balik larangan untuk memotong rambut dan kuku di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Menurut ulama Syafi’iyah, hikmah larangan di sini adalah agar rambut dan kuku tadi tetap ada hingga kurban disembelih.

Tujuannya, agar makin banyak dari anggota tubuh yang terbebas dari api neraka.

Larangan ini berlaku sampai hewan yang dikurbankan disembelih.

Jadi, misal hewan Kurban disembelih ketika tanggal 11 Dzulhijjah, maka larangan tersebut akan gugur di hari itu juga. 

Sumber